-----

Kidung Sunyi

Embun di pucuk daun berkilauan layaknya kaca sang permaisuri alam yang baru saja dikikir. Pagi membuka harinya, menampilkan suasana sunyi tak terelakkan. Hamparan sawah sudah menguning, dan nampaknya sudah siap untuk dipanen. Deretan kuda-kuda yang terparkir di sebuah rumah menhentak-hentakkan kakinya seakan tak sabar menunggu untuk pergi ke festival kuda pagi ini.

Samburo seorang anak kecil berdiri dengan kuda poni putihnya di depan rumah itu. Mulutnya yang mungil menerikkan panggilan keras “Uni! … Uni! …”.

Sejenak kemudian sesosok wanita paruh baya keluar dari dalam rumah dengan membawa jok kuda. Tatapan galaknya membuyarkan suasana pagi yang lembut ini. “Ada apa Buro?” bentaknya tiba-tiba.

“Uni… akan kujual Poni milikku pada Uni … “ jawab Samburo dengan kepala tertunduk tak berani menatap Uni.

“Akhirnya kau jual juga anak nakal!. Harusnya dari dulu-dulu kau jual padaku. Sekarang aku tak mau beli Poni-mu itu. Aku sudah punya. Bahkan bulunya lebih bagus daripada Poni-mu.”

“Tapi ini … Ibu sangat memerlukan uang untuk pengobatan ayah” Raut muka Samburo mendadak muram. Ia bisa membayangkan bagaimana kalau Poni kesayangannya itu tak jadi dijual. Ia dan ibunya tidak dapat membayar pengobatan ayah di rumah sakit. Mungkin ayahnya harus ditahan di rumah sakit, tanpa perawatan sampai ia dan ibunya mendapatkan dana yang memadai untuk membayar pengobatan.

Lama Uni memikirkan apakah ia jadi membeli kuda poni yang kurus kering itu. sesaat ditatapnya wajah Samburo yang memelas. Ia mau saja membantunya dengan memberi Samburo yang secara cuma-cuma, karena ayah Semburo adalah kakak sepupunya. Namun niat itu ia urungkan setelah mengingat-ingat lagi hutang-hutang ayah Semburo padanya.

Mereka saling menatap kosong lama sekali hingga tak sadar matahari sudah bersinar dan menyebarkan hangatnya di pagi itu.

“Uni … “ panggil Samburo penuh harap.

“Sekali tidak, tetap tidak!” bentak Uni memecah keheningan.

“Baiklah … aku pulang Uni … “ Samburo mengalah. Ia pikir tak mungkin Uni-nya mau membantunya.

“Tunggu! Aku memag tak bisa membeli kuda poni-mu, karena kau lihat saja di kandang poni-poniku sudah berjubel. Tapi kau bisa ikut lomba kuda esok hari. Kalau poni kurusmu itu dapat melaju cepat, kau akan dapatkan hadiah berupa uang dan sudah pasti ponimu akan dihargai berjuta-juta kalau nantinya kau jual ke orang lain. Sekarang pulanglah! Kau latih kudamu agar besok bisa menang. Meski itu tak mungkin.” Ujar Uni sambil memalingkan wajahnya yang cemberut dan berlalu masuk ke dalam rumah.

“Terima kasih Uni” teriak Samburo. Di wajahnya nampak sedikit harap. Pulang dari rumah Uni ia berencana menuju hutan untuk mencari kayu bakar dan melatih Bayan, poni kesayangannya.

Udara semakin panas saja kala itu. Samburo dan Bayan sudah sampai di tepi hutan.

“Bayan tunggu di sini ya! “ Samburo mengikat tali kekang Bayan ke ranting pohon kuat-kuat agar Bayan tak lepas lagi seperti minggu kemarin. Saat itu Samburo dan ibunya kerepotan keliling hutan mencari Bayan yang tiba-tiba menghilang dan akhirnya mereka temukan juga si Bayan yang sedang enak-enakkan merumput di salah satu sudut hutan. Meskipun mereka kelelahan, namun semuanya terbayar ketika Bayan berhasil ditemukan. Karena itulah harapan terakhir mereka untuk menyelesaikan masalah pembayaran rumah sakit.

Tak terasa hari mulai senja. Samburo dan Bayan rupanya terlalu asyik berlatih, hingga mereka lupa kembali ke rumah untuk memberikan kayu bakar ke ibu.

.....



Share ke : _

0 komentar:

Posting Komentar

 
© 2011 Terus Belajar Berbagi Kebaikan | www.jayasteel.com | Suwur | Pagar Omasae | Facebook | Rumah Suwur