-----

Dari Buku Fiksi - Daerah Tidak Bertuah

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan rahmat-Nya tugas Karya Sastra Bahasa Indonesia ini dapat kami selesaikan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan.

Tugas ini membahas tentang analisis sebuah buku fiksi Daerah tidak Bertuah, dan dilengkapi dengan sinopsis ceritanya.

Terwujudnya hasil karya ini tak terlepas dari kerja sama yang sangat baik dari semua teman-teman dan berkat bimbingan Ibu guru, untuk itu kami sangat berterima kasih kepada semua pihak yang telah berperan dalam pembuatan tugas ini.

Segala kritik dan saran sangat kami harapkan demi terwujudnya penyelesaian tugas yang lebih baik lagi di masa yang akan datang

DAFTAR ISI

Judul / Nama Kelompok...................................................................................... 1

Kata Pengantar .................................................................................................. 2

Daftar Isi ............................................................................................................ 3

Pendahuluan ....................................................................................................... 4

Jenis Buku .......................................................................................................... 5

Unsur Interensif .................................................................................................. 6

Sinopsis Cerita ................................................................................................... 7

PENDAHULUAN

Marno, Truno, Ganda, dan Solimin. Kelompok penjarah emas yang menamakan diri pasukan Biru, berhasil melarikan diri dari penjara Kali Sosok, Surabaya. Di luar penjarah, mereka bertekat ikut bergabung kedalam pasukan liar pimpinan Kaelani. Akan tetapi, dari keempat pelarian itu Soliminlah yang masih berambisi untuk menguasai sebagian hasil jarahan mereka yang tersimpan di dalam kampil. Bahkan ia tega membunuh Ganda, sahabatnya sendiri.

Untuk menghapus jejaknya, Solimin berlagak yang pertama-tama melaporkan kematian Ganda kepada Kaelani. Namun, akhirnya rahasia Solimin terbongkar lewat bukti sungkur Jepang dan pipa miliknya yang ditemukan Kaelani. Untuk menghapus dosa itu, Kaelani memberikan tugas khusus kepada Solimin meski harus di bayar dengan pengoranan yang cukup besar.

JENIS BUKU yaitu Fiksi

Keunggulan dan Kelemahan Buku:

Tema : perjuangan

Penokohan :

1. Marno : baik hati, setia kawan

2. Truno : pemarah, keras kepala

3. Ganda : baik hati, setia kawan

4. Solimin : pemarah, keras kepala, ingin menang sendiri

5. Kaelani : bijaksana, baik hati

6. Pak Mantri : bijaksana, sabar

Alur : maju

Setting : di Mojokerto, pada zaman penjajahan Jepang

Sudut pandang : orang pertama pelaku sampingan

Gaya bahasa : pertentangan

UNSUR INTERENSIF

Nilai Buku:

Judul buku : Daerah tidak Bertuah

Penulis :

Pengantar : Toha Mohtar

Penyunting :

Penerbit : PT Grasindo

Tebal buku : XVII + 123 halaman

SINOPSIS CERITA

Kisahnya sebenarnya bermula dari gerombolan Item dengan Marno, Truno, Ganda, dan Solimin yang melarikan diri dari penjara Kalisosok, yang berhasil menjarah emas dan disimpan di dalam kampil. Mereka menamakan dirinya Pasukan Biru. Mereka bertekad membayar sisa hukuman dengan ikut berjuang membela kemerdekaan. Ternyata emas dalam kampil ini merupakan batu ujian. Pertama-tama Item sendiri. Ia melanggar sumpah sehingga tubuhnya hancur di pinggir pasar Blauran. Marno, Truno, Ganda, dan Solimin akhirnya bersepakat masuk anggota Pasukan Liar pimpinan kaelani. Dan oleh Kaelani diperintahkan agar Pak Mantri, pensiunan mantri garam yang ikut menjadi anggota pasaukan, dikawal oleh Truno menyerahkan kampil itu ke markas pertahanan dedvisi. Perintah rahasia ini hanya diketahuhi Pak Mantri, kaelani, dan Ganda. Truno tidak diberitahu sama sekali. Di tengah perjalanan ke markas pertahanan di Mojokerto, setelah selamat dari berondongan Ghurka, di luar dugaan Truno memaksa Pak Mantri untuk memberitahukan apa tugas yang sangat rahasia itu.

Pertanyaan yang mengandung maksud tersembunyi ini, apalagi berasal dari seseorang bekas penghuni Nusakambangan, membuat Pak Mantri sangat berhati-hati. Mereka hanya berdua. Truno terus mendesak dengan berdiri di belakang Pak Mantri. Truno bisa saja menembak, membuang mayat Pak Mantri ke tengah tambak, lalu melarikan tampil yang berisi permata itu ke daerah pendudukan. Akan tetapi, itu semua ternyata tidak terjadi. Boleh jadi lantaran Pak Mantri menghadapinya dengan tenang, apalagi setelah Truno mendesak bahwa ia hanya ingin kepercayaan. Pak Mantri memberikannya dengan memberi tahu terus terang.

Kepercayaan ini ternyata meluluhkan hasrat jahat bekas pembunuh dari Nusakambangan itu. Ia kembali bangkit dan bersumpah untuk setia mengawal sampai ke tujuan. Sayangnya, sebelum sampai ke tujuan, Truno gugur terkena pecahan mortir. Meski akhirnya kampil permata itu selamat ke tujuan, matinya Truno sangat membekas di hati Pak Mantri. Ia bertekad untuk menebusnya dengan jalan menyelinap masuk ke dalam daerah pendudukan untuk membuat peta seberang kali dengan lebih sempurna. Usaha yang mulia ini berakhir pula dengan kegagalan, bahkan berakibat gugurnya Pak Mantri di tangan pasukan Ghurka.

Gugurnya Pak Mantri menyebabkan Ganda merasa kehilangan. Di samping itu Ganda terus terang kepada Kaelani perihal Solimin yang menuduhnya telah mengkianatinya karena menyerahkan kampil tanpa sepengetahuhannya. Inilah yang menggelisahkannya.

Kecemasan Ganda terhadap tingkah Solimin memuncak tatkala ia sedang jaga di pos dekat anggar, mendadak ujung sangkur Jepang yang panjang menekan punggungnya diikuti gemetar suara Solimin penuh kemarahan.

Di antara kelompok bekas narapidana itu, selain Item, Soliminlah yang paling bernafsu untuk memiliki sebagian dari kampil. Ia bahkan akhirnya tega membunuh Ganda sahabatnya itu. Kebetulan malam itu terdengar rentetan tembakan dari arah daerah pendudukan. Untuk menghapus jejak, pagi harinya, dialah yang pertama-tama melaporkan kematian Ganda kepada Kaelani. Marno, sahabat Ganda sejak di Kalisosok, tidak mempercayainya. Meski Kaelani sependapat dengannya, ia tidak mengijinkan Marno menuntut balas dengan cara menembak Solimin. Kaelani mempunyai cara lain untuk menghukum Solimin. Dalam suatu ‘pengadilan’ yang dihadiri oleh Kaelani, Marno, dan terdakwa Solimin (meski pada mulanya Solimin menolak mentah-mentah tuduhan terhadapnya dalam kepintarannya memutar-balikkan fakta) akhirnya Solimin tidak bisa berkutik lewat bukti sangkur Jepang dan pipa miliknya. Untuk menebus kesalahannya, Kaelani memutuskan,

“Aku mengerti, kau tak memilih kematian yang begitu nista. Jika demikian, kau bisa pilih, merangkak ke pinggiran Sungai Cerme. Jangan mencoba membalik, sebab laras karaben Marno akan menyala, peluru pertama akan menembus kepalamu. Tapi jangan pula engkau mencoba lari menyeberang ke hulu. Mobin telah kuperintahkan menghadang engkau di sama sampai fajar terbit esok pagi”

….

“Dengarkan baik-baik. Jika nanti gelap tiba, kau bisa menghanyutkan ke hilir dan kau akan lewat jembatan gantung itu. Kau habiskan granat itu ke gardu Ghurka dekat jembatan.” “Solimin! Dengan begitu barangkali kau akan menyusul Ganda. Sebab Ghuka-Ghurka itu akan menembak engkau dari atas. Tapi barangkali pula kau masih bisa hidup. Jika gardu Ghurka itu hancur bersama penjaganya, kau bisa menghanyut ke hilir, kau bisa balik kemari. Tapi ingat, jika kau menghanyut ke hilir tanpa meledakkan granat itu, Alwi sudah menyambut engkau di bawah.”

Dengan kata lain, kotoran pun masih bisa dimanfaatkan untuk rabuk. Dan itulah nasib yang harus disandang oleh pengkhianat.

Perasaannya menjadi semakin galau tatkala beberapa hari kemudian sebuah pesawat pemburu sekutu menyapu sepanjang jalan yang menghubungkan kota Gersik dan Lamongan serta diikuti sebuah pesawat besar bermotor dua membombardemen daerah itu dengan sangat dahsyatnya. Korban-korban rakyat kecil berjatuhan. Di antaranya terdapat Minah dan anaknya yang baru berumur sepuluh bulan, yang meninggal berlumuran darah dengan mengerikan. Ironisnya, Marnolah yang saat itu menolongnya. Kaelani dan Marno saat itu tertegun penuh keharuan. Minah datang dari daerah pendudukan hanya ingin tahu dengan pasti di mana kuburan Solimin, suaminya. Keinginan atau lebih tepatnya kesetiaan terhadap suaminya itu, harus dibayar dengan mahal.

TENDENS DALAM CERITA DAERAH TIDAK BERTUAH

1. Dari gerombolan Item yaitu Marno, Truno, Ganda, dan Solimin yang melarikan diri dari penjara Kalisosok, yang berhasil menjarah emas dan simpan di dalam kampil. Yang menamakan dirinya sebagai pasukan Biru.

2. Karena melanggar sumpah yang menyebabkan tubuhnya hancur di pinggir pasar Blauran, sehingga Marno, Truno, Ganda, dan Solimin bersepakat untuk masuk keanggotaan pasukan liar pimpinan Kaelani.

3. Kisah gugurnya Truno bermula, ketika tentara Ghurka melepaskan lagi tembakan mortir sejak pagi hari dari seberang kali.

4. Truno kembali bangkit dan bersumpah untuk mengawal sampai tujuan, sayangnya sebelum sampai ke tujuan, Truno gugur terkena pecahan mortir.

5. Itulah saatnya yang paling akhir anak-anak pasukan lain melihat Truno, berjalan di belakan Pak Mantri sebagai pengawal.

6. Satu orang itu melewati gubuk lapuk bekas warung kopi, dimana anak Pesindo meninggal lantaran peluru sendiri sebulan yang lalu.

7. Ia bekas tahanan, bekas penjahat dari penjara Nusakambangan, tempat kumpulan pembunuh yang tidak tanggung.

8. Pak Mantri menyusuri sungai kecil, melewati rumpun-rumpun bambu yang banyak hancur, melintasi persawahan dan gedung yang terbengkalai dan banyak ditumbuhi alang-alang setinggi lutut.

9. Tak ada tanda bahwa sejak penduduk meninggalkan kampung ini ada kaki yang menginjaknya kembali.

10. Pekerjaan itu ia lakukan tidak lebih dari sepuluh menit, tapi di rasanya ia telah melawan arusnya selama berjam-jam.

11. Lurus di bawah matahari itu berkeliaran anak-anak muda yang berjuang, mempertaruhkan jiwa dan sedia menjadi tumbal daerah pertempuran.

12. Keselamatan kawan-kawan tergantung pula dari senjata ini (senjata Jepang), ia bisa tertawa waktu itu dan ia tepuk pundak si anak, tapi sekarang kemesraannya lebih menyentuh hatinya.

13. Pak Mantri bertekad untuk menebusnya dengan jalan menyelinap dan membuat peta seberang kali dengan lebih sempurna, tetapi usaha ini gagal bahkan berakibat gugurnya Pak Mantri di tangan pasukan Ghurka.

14. Hal itu telah terjadi, darah dari dadanya yang lalu membasahi dril coklat dan tangan yang kering itu lalu tertarik mengejang jari seperti cari pegangan.

15. Senja telah lewat dan Pak Mantri belum juga datang, kecemasan anak-anak pasukan bertambah, suasana markas bertambah lengang.

16. Kekosongan mereka telah terisi oleh mimpi seorang tua yang damba mencurahkan sayang terhadap anak-anak yang diberikannya tanpa sadar pula.

17. Pemboman yang dilakukan oleh kapal-kapal Inggris dari pelabuhan Tanjung Perak terhadap kota yang tercinta, dirasakan sebagai hinaan yang paling dalam menusuk hati.

18. Jika terjadi hal yang tidak diharapkan, jika yang paling tercinta disini mengalami mala petaka, ada yang tersendat jauh di dalam itu yang kutanyakan (Ganda).

19. Ganda punya sisa hukuman yang terlalu panjang, jika perang ini usai dan republik menagih sisanya, maka umur Ganda akan habis di belakang kurungan.

20. Sahabat bukan sekedar sebutan, perkataan itu harus ditandai kesetiaan dan ini justru yang kau tidak punyai.

21. Diantara kelompok bekas NAPI itu, selain ITEM, Solimin yang paling bernafsu untuk memiliki sebagian dari kampil. Ia bahkan tega membunuh Ganda, sahabatnya sendiri.

22. Berjuang bukan sekedar bertaruh nyawa dalam hujan peluru, bahwa tugasnya sekarang bukan ama melawan musuh dan menyelamatkan anak buahnya dari ancaman maut yang bisa datang setiap saat.

23. Enam orang pengadang TRI yang menyebar di pinggir sungai, gugur oleh tusukan sungkur Ghurka di tengah malam, di bawah gerimis semalam.

24. Kaelani mempunyai cara lain untuk menghukum Solimin dalam suatu “pengadilan” yang dihadiri oleh Kaelani, Marno dan terdakwa Solimin dalam suatu (meski pada mulanya menolak mentah-mentah tuduhan terhadapnya dengan kepintaran memutar balikkan fakta) akhirnya Solimin tidak bisa berkutik lewat bukti sangkur Jepang dan pipa miliknya.

25. Ada seorang pejuang yang merayap di tangah malam, di bawah gerimis, menghanyutkan diri di sungai Cerme, lalu menghabiskan granat, buat menghancurkan kubu Ghurka. Isinya lalu kami kuburkan di daerah tidak bertuah.

26. Penyerangan telah berhasil mengusai daerah yang luas di semua hati, kisah-kisah Pak Mantri, jerit kematian Truno, gugurnya Ganda, serta perginya Solimin. Semua itu adalah bagian dari kisah yang tidak bakal mati, tentang manusia yang sedia menjadi tumbal bagi kemerdekaan.

Thank to

Share ke : _

0 komentar:

Posting Komentar

 
© 2011 Terus Belajar Berbagi Kebaikan | www.jayasteel.com | Suwur | Pagar Omasae | Facebook | Rumah Suwur