-----
Tampilkan postingan dengan label BANGUNAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BANGUNAN. Tampilkan semua postingan

PENGARUH IKLIM TERHADAP MANUSIA

Fungsi utama dari arsitektur adalah harus mampu menciptakan lingkungan hidup yang lebih baik dengan cara menanggulangi tekanan iklim yang ada. "Stress" yang terjadi harus sesedikit mungkin. Suatu sistem guna mencapai kondisi keseimbangan antara iklim dan arsitektur sulit sekali untuk diketengahkan, sebab dalam hal ini banyak sekali cabang ilmu yang tersangkut.
Usaha untuk menyeimbangkan antara iklim dan arsitektur, dilakukan dengan memanfaatkan unsur-unsur iklim yang ada, seperti angin, suhu udara, dan lain-lain, sehingga akhirnya manusia dapat memperoleh kenyamanan yang diharapkan.

Kenyamanan dapat dikategorikan dalam tiga bentuk, yaitu:
1. Kenyamanan thermal
2. Kenyamanan visual
3. Kenyamanan Audial
Dalam hal ini terutama membahas masalah kenyamanan termal pada bangunan kecil (tempat tinggal).


Kenyamanan Thermal

Kenyamanan thermal adalah suatu kondisi thermal yang dirasakan oleh manusia bukan oleh benda, binatang, dan arsitektur, tetapi dikondisikan oleh lingkungan dan benda-benda di sekitar arsitekturnya.
Dalam proses perancangan arsitektur dengan memakai pendekatan iklim, terdapat empat variabel yang dominan, yaitu:
- Iklim
Gambaran iklim harus diketahui dengan baik. Karakteristik tahunan atau harian dan masing-masing data di analisa sehingga dapat diketahui ciri-ciri utama dari iklim setempat. Data-data tersebut meliputi:
- suhu udara (T, derajat Celcius)
- kelembaban relatif (RH)
- radiasi matahari (MRT, derajat Celcius)
- kecepatan angin yang ada (V, m/dt)
- Biologi

Karakter iklim tersebut di atas kemudian dianalisa menurut syarat-syarat kenyamanan bagi manusia sebagai pemakai bangunan. Sehingga dapat diketahui kelakuan iklim tersebut. Selanjutnya akan bermanfaat untuk perancangan bangunan.
- Teknologi
Apabila telah diketahui iklim yang ada dan iklim yang dikehendaki untuk kenyamanan, selanjutnya dengan teknologi yang ada perancangan bangunan dapat diterapkan secara kuantitatif.

Thermal comfort dapat diperoleh dengan cara mengendalikan atau mengatasi hal-hal berikut:
1. Sumber panas (pembakaran karbohidrat dalam makanan, suhu udara, radiasi matahari). Untuk itu harus ada heat transfer (menurunkan atau pertukaran panas) dari tubuh ke lingkungan, dengan cara:
- Konduksi
Misalnya dengan memegang benda yang dingin atau berpindah ke tempat yang lebih dingin. Penurunan panas yang terjadi sangat kecil.
- Konveksi
Pertukaran udara melalui fluida bergerak. Penurunan panas yang terjadi 40%. Misalnya, saat kepanasan kita keluar untuk mencari udara segar atau fluida bergerak.
- Radiasi
Penurunan panas yang terjadi 40%. Radiasi matahari diatasi dengan menjauhi radiasi tersebut, atau dengan mengurangi makan, sebab makanan menaikkan suhu tubuh.
- Evaporasi
Memperbanyak penguapan. Penurunan panas 20% (kipas-kipas untuk mempercepat evaporasi).

2. Kelembaban
Harus mengkondisikan atau mengendalikan kelembaban yang berasal dari:
- Keringat - Benda-benda
- Sumber kelembaban - Sumber air
- Tanaman

Teknologinya dengan memakai dehumidifier (AC), mengatur kelembaban supaya sesuai dengan yang diinginkan.

Cara mencapai comfort dilakukan dengan mengendalikan penguapan dan sumber kelembaban, yaitu:
- Penguapan: keringat diuapkan
- Pengeringan: sumber air yang tidak perlu, dikeringkan
- Pengembunan (kondensasi): dengan AC pada udara jenuh
- Penyerapan (absorbsi)

3. Angin
Terjadi angin karena adanya beda tekanan:
- Gaya angin (perbedaan tekanan udara)
- Gaya suhu (perbedaan suhu udara)
Gaya angin lebih besar daripada gaya suhu.
Contohnya pada proses stack effect.

4. Radiasi Panas Sumber:
- Sinar matahari langsung dan tak langsung (pemantulan dan konduksi)
- Pembakaran

Keterangan:
1. Cahaya sinar langsung
2. Cahaya yang menembus
3. Radiasi tidak langsung
4. Sinar memanaskan udara di sekitar atap, sehingga panas-nya menembus bangunan
5. Panas dan tanah

Hal tersebut harus dikendalikan untuk meningkatkan comfort salah satunya adalah dengan teknologi passive cooling melalui:
• Penambahan shading untuk mengatasi sinar langsung
• Insulasi panas untuk radiasi yang menembus
• Permukaan sebagai diffuser untuk radiasi tidak langsung
• Vegetasi, atap dengan ventilasi untuk konveksi
• Untuk permukaan tanah yang tidak menyerap panas dipakai sistem lantai panggung (mengatasi radiasi dari tanah)

Tingkat Perencanaan Lingkungan Binaan dalam Aspek Kenyamanan Thermal
Aspek kenyamanan thermal untuk perencanaan lingkungan binaan mencakup:
1. Eksterior bangunan
2. Interior
3. Selubung bangunan

Perencanaan terhadap masing-masing cakupan di atas berkaitan dengan bentuk bangunan, seperti: ketinggian lantai bangunan, bentuk massa dan dimensi bangunan.
Perencanaan untuk Bangunan Satu Lantai Eksterior Bangunan
Gubahan massa bangunan, merupakan hal penting yang harus diperhatikan dalam perencanaan.

Gubahan massa sendiri dipengaruhi oleh:
- Bentuk bangunan
- Jarak bangunan
- Ketinggian bangunan
- Kondisi bangunan di sekitarnya
- Vegetasi (penutup tanah, perdu, pohon, dan lain-lain)
- Bentang alam (danau, sungai, tebing, bukit, dan jurang)
- Kondisi iklim mikro
- Perkerasan tanah.

Gubahan massa bangunan bertujuan untuk:
- Mengendalikan radiasi matahari
- Mengendalikan angin dan kelembaban.

Pada bangunan satu lantai, udara yang masuk adalah udara lembab yang menimbulkan dan meningkatkan kelembaban udara dalam ruangan. Penambahan vegetasi pada ruang luar harus diperhitungkan supaya pengaliran udara ke dalam bangunan dapat berfungsi.
Jarak vegetasi ke bangunan (s), tergantung dari tinggi (h). Pertimbangan terhadap vegetasi sama halnya ketika kita membicarakan pagar bangunan.

K
Pagar menghalangi aliran udara ke rumah
etinggian dan bentuk pagar jangan sampai menghalangi pengaliran udara ke bangunan.
Pagar sirip dapat mengalirkan aliran udara ke rumah
Rumah ditinggikan dari tanah, sehingga pagar tidak menghalangi pengaliran udara


Interior Bangunan

Pada siang hari terjadi proses pemanasan, dan pada malam hari terjadi pelepasan panas (pendinginan). Proses pendinginan secara berantai (melalui fase-fase) pada bangunan satu lantai tetap efektif, tapi tidak untuk bangunan berlantai banyak. Massa udara menghambat radiasi dan konduksi, digantikan dengan konveksi. Kondisi ini disebut dengan efek termos. Jadi, semakin banyak udara akan menguntungkan.

Untuk memahami secara baik bagaimana pengaruh lingkungan luar terhadap bangunan, dapat diketahui dengan memahami bagaimana perambatan panas yang terjadi pada bangunan.

Pada dasarnya perambatan panas terjadi secara bertingkat.
Perambatan panas tersebut berupa:
1. Konveksi
2. Radiasi
3. Konduksi (atap - dinding)
4. Evaporasi

Bentuk bangunan, seperti bentuk atap, dapat mempengaruhi perambatan panas pada bangunan. Bangunan dengan bentuk atap datar akan menghantarkan radiasi yang lebih besar daripada bangunan dengan bentuk atap miring. Hal ini disebabkan karena pada bangunan dengan atap datar, panas yang diradiasikan ke dalam bangunan jatuhnya tegak lurus dan langsung masuk ke
fase 2.
Sedangkan pada bangunan dengan atap miring, panas yang masuk terlebih dahulu masuk ke dalam ruang atap, ditahan dulu oleh udara (mengalami konveksi), sehingga panas yang masuk ke fase 2 lebih kecil.
Selain bentuk bangunan, bentuk ruangan juga berpengaruh terhadap kenyamanan. Berikut ini. kita lihat perbandingan kenyamanan pada beberapa bentuk ruang dengan luas yang sama.
Bentuk lingkaran merupakan bentuk ruang yang memiliki kenyamanan yang paling tinggi, karena zona pori-porinya kecil dan jaraknya sama rata dari titik pusat geometri.Pada bentuk persegi panjang, orientasi mempengaruhi kenyamanan. Pada kotak A, zona pori-pori lebih besar dari kotak B, sehingga kotak B lebih nyaman.


Selubung Bangunan

Aspek interior, eksterior dan selubung bangunan dapat saling mempengaruhi dalam perencanaan bangunan. Untuk memperoleh kenyamanan, bangunan yang mempunyai ruang kecil-kecil akan mempunyai dinding yang tebalnya berbeda dengan bangunan yang mempunyai ruang-ruang yang besar.

Hal mi disebabkan karena bangunan dengan ruang-ruang yang kecil, dindingnya akan menyimpan panas yang lebih besar.
Sedangkan bangunan dengan ruang yang lebih besar, lebih lambat panas dan lambat dingin (time lag besar).

Untuk bangunan kecil, kenyamanan termal dapat dicapai dengan:
1. Dinding lebih tipis, volume dinding berkurang
2. Menggunakan material dinding dengan kapasitas panas (kemampuan menyimpan panas) kecil. Kapasitas panas berhubungan dengan massa jenis. Massa jenis A lebih besar dari massa jenis B, setara dengan kapasitas panasnya.
3. Menggunakan material dinding dengan konduktivitas panas (kemampuan menyalurkan panas) besar

Untuk pemilihan bahan, kriteria yang harus diperhatikan:
1. Bangunan kecil:
- Konduktivitas panas besar
- Kapasitas panas kecil

Pilihan bahan dapat berupa:
- Bambu atau kayu, karena bersifat insulasi, yaitu kapasitas panas kecil dan konduktivitas panas kecil
- Hindari bahan logam, karena bersifat konduktor, yaitu kapasitas panas besar dan konduktivitas panas juga besar.

2. Bangunan besar:
- Konduktivitas panas boleh besar
- Kapasitas panas boleh besar

PERBEDAAN BANGUNAN DAN ARSITEKTUR

Kita sering kesulitan membedakan antara bangunan dan arsitektur, karena memang arsitektur itu adalah bangunan. Namun kita harus tahu bahwa tidak semua bangunan adalah arsitektur dan dalam arsitektur tidak hanya menyangkut masalah bangunan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang dibuat oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, terbitan Balai Pustaka, Jakarta, tahun 1990, bangunan diartikan sebagai yang didirikan, yang dibangun (seperti rumah, gedung, jembatan), sedangkan arsitektur diartikan sebagai 1. seni dan ilmu merancang serta membuat kontruksi bangunan; 2. metode dan gaya rancangan suatu konstruksi. Untuk pembuat arsitektur yaitu arsitek masih menurut kamus besar ini diartikan sebagai 1. orang yang merencanakan suatu gedung dan memimpin konstruksinya. Menurut Ensiklopedia Indonesia, yang disusun oleh Hassan Shadily dan kawan-kawan, terbitan Ichtiar Baru-Van Houve, Jakarta, tahun 1980, diterangkan tentang arsitektur adalah sebagai berikut.Arsitektur berasal dari bahasa Yunani Purba, archos, berarti pemimpin, dan tektor, yang berarti tukang tembok. Architector berarti lebih kurang mandor tukang tembok, sekarang menjadi kata Indonesia arsitek melalui bahasa Belanda dan menjadi gelar dari seseorang yang melakukan perencanaan bangunan. Sedangkan arsitektur menjadi istilah untuk menunjukkan ruang lingkup bidangnya. Pada masa kini, kata arsitektur mengandung pengertian yang agak panjang: seni merancang bangunan bagi manusia yang bernaluri mencari keamanan dan kenyamanan diri demi kesejahteraan jiwa dan raganya, serta untuk memenuhi kepuasan diri mencipta suatu keindahan. Merupakan seni yang praktis dan langsung digunakan oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari yaitu dalam bentuk rumah yang dihuninya serta dalam bentuk bangunan dan lingkungannya yang dibutuhkan untuk hidup bermasyarakat. Pada masa kini dipandang lebih sempurna lagi bilamana segi teknologinya dan segi ekonominya memiliki keistimewaan yang bernilai menguntungkan. Pada dasarnya, seni arsitektur ialah seni yang memperpadukan unsur-unsur yang relatif berskala besar dan berdimensi tiga. Ukuran tiga arah ini dapat berwujud akhir sebagai bentuk yang padat dan kokoh, ataupun menjelma ruangan dengan maksud dan suasana tertentu. Selain itu setiap bangunan umumnya memiliki kekhasan secara fisik. Ditinjau dari sudut sejarahnya dan dipandang dari segi yang sempit terwujudnya suatu bentuk dan gaya arsitektur ditentukan oleh pencipta atau perencanaannya. Tetapi bilamana dipandang dari segi yang luas dan melihat arsitekturnya sebagai hasil karya cipta suatu kebudayaan, maka ada 6 unsur yang dapat mempengaruhi perwujudan tersebut: geografi, geologi, iklim, sosial atau kemasyarakatan, agama dan falsafah kepercayaan, latar belakang sejarah dan ketatanegaraannya. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas maka ciri khas dari berbagai bentuk dan gaya arsitektur di seluruh dunia ini dari abad-abad yang lalu sampai masa sekarang, dapat disimpulkan: seni arsitektur; ilmu arsitektur. Masih banyak literatur-literatur yang dapat kita ambil dalam mengartikan bangunan dan arsitektur, sehingga kita dapat memahami apa sebenarnya arti dari kata-kata itu. Kemudian kita dapat membayangkan bagaimana wujud dan bentuknya dan kemudian kita dapat mengambil contoh-contoh untuk dibandingkan apakah ini termasuk bangunan ataukah termasuk arsitektur.

BANGUNAN
Bangunan adalah suatu susunan elemen-elemen yang membentuk fungsi untuk mewadahi aktifitas manusia dengan segala komponen yang dibutuhkan dalam aktifitasnya. Ia memiliki bentuk dan dimensi yang dapat menaungi dengan memiliki kekakuan dan kekokohan yang dapat melindungi manusia dan segala aktifitas di dalamnya dari segala gangguan. Karena bangunan berfungsi untuk mewadahi aktifitas manusia maka ia harus mempunyai keadaan yang dibutuhkan oleh manusia yaitu kenyamanan, keamanan, dan efisiensi, serta kebutuhan-kebutuhan manusia yang lain. Memang menurut kamus besar Bahasa Indonesia di atas, bangunan diartikan menurut arti katanya. Bangunan adalah kata benda, dengan kata kerjanya bangun atau membangun, sehingga bangunan dapat diartikan sebagai yang dibangun atau yang didirikan. Bangunan adalah segala sesuatu yang dibangun untuk suatu kepentingan tertentu. Dengan definisi demikian, hampir semua bentuk yang didirikan atau dibangun dapat disebut sebagai bangunan, seperti gedung, rumah, jembatan, jalan, tugu, kios, warung dan banyak lagi contoh yang dapat disebutkan. Sehingga kita dapat menyebut ada bangunan kapal, bangunan irigasi, bangunan permanen, bangunan tidak permanen dan seterusnya. Namun dilihat dari arti yang lebih khusus, bangunan harus memenuhi syarat-syarat lebih khusus pula, sehingga ia benar-benar dapat disebut sebagai bangunan seperti yang kita maksud dalam risalah atau makalah ini. Syarat-syarat itu meliputi fungsinya, ukuran dan bentuknya, serta sifatnya, yang antara lain telah disebutkan di atas. Dalam kenyataannya kita sering melihat yang telah dibangun oleh manusia lebih banyak bangunan dari pada arsitektur. Karena menurut ilmu arsitektur membuat bangunan itu lebih mudah dari pada membuat arsitektur, apalagi arsitektur yang benar-benar mempunyai nilai yang tinggi dan bermutu. Dan nilai itulah salah satu yang membedakan antara bangunan dan arsitektur. Bangunan ini lebih banyak menjurus pada sifat fungsional. Ia dibangun untuk memenuhi kebutuhan manusia. Ia dimanfaatkan dari segi fungsi fisiknya saja. Bangunan sering hanya digunakan untuk tempat-tempat produksi, meskipun tidak selalu demikian. Misalnya pabrik, galangan, bangsal, penjara, tenda, bengkel, gudang , sering menggunakan yang disebut bangunan, walau ada juga tempat-tempat itu yang dibangun dengan arsitektur dengan nilai seni tinggi yang tidak kalah menariknya wujud yang lain. Kalau kita pandang dari sudut sejarah adanya bangunan di muka bumi ini ada semenjak manusia mulai menetap dan bercocok tanam. Dulu ketika manusia hidup berpindah-pindah dan mencari makan dengan berburu dan mencari buah-buahan, mereka melindungi diri dari keadaan alam dengan memanfaatkan goa atau pohon yang besar. Ketika mereka mulai bercocok tanam dan menetap dan jumlah mereka semakin banyak, kebutuhan mulai lebih banyak, goa saja tidak cukup, diperlukan suatu bentukan yang dapat melindungi mereka dari panas dan hujan, dari gangguan binatang buas, untuk menyimpan hasil pertanian, dan lain sebagainya, maka dibangunlah rumah pohon, tenda, gubuk, dan terus berkembang hingga menjadi rumah dan gedung sampai sekarang. Pada zaman sekarang yang namanya bangunan memang sangat beraneka ragam, sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki oleh manusia. Demikian juga dengan bahan-bahan yang digunakan untuk menyusun konstruksi dan segala komponen bangunan itu. Kalau dulu cuma dikenal kayu, ijuk dan bambu, kini ada beton bertulang dan konstruksi baja. Sistem yang digunakan untuk menyusunnya pun beraneka ragam, bisa rangka, sistem tenda, sistem tali, sistem lipat, dan tentu akan terus berkembang bersama perkembangan kebudayaan manusia yang tidak akan pernah berhenti selama ada kehidupan di dunia ini. Bangunan kini telah mendominasi permukaan bumi yang tipis ini dengan segala macam bentuk dan warnanya. Kini hampir semua kegiatan manusia berada dalam suatu benda yang disebut bangunan.



ARSITEKTUR
Arsitektur dalam hal ini adalah suatu karya cipta manusia dengan segala pengetahuannya dan sifat kemanusiaannya serta sifat seninya dalam bentuk susunan elemen-elemen yang mempunyai bentuk, fungsi, dan keindahan. Ia adalah hasil seni bangunan yang memiliki aturan-aturan dan kaidah-kaidah yang kemudian disebut kaidah arsitektural. Sesuai dengan yang disebutkan oleh Romo Mangun Wijaya, misalnya, guna dan citra, berarti arsitektur mempunyai kegunaan atau fungsi dan citra atau keindahan atau ciri khusus yang menjadi warna dan jiwa dari wujud itu. Arsitektur mempunyai fungsi yang tidak hanya menaungi dan mewadahi manusia dengan segala aktifitasnya dan segala perabot yang dibutuhkan dalam aktifitas itu, melainkan juga memberikan suasana, image, dan mengarahkan pikiran dan perasaan serta prilaku dari para penggunaannya. Arsitektur juga mempunyai citra, keindahan, dan nilai seni yang dapat dibanggakan dan ditunjukkan serta dinikmati sendiri oleh penghuninya. Atau yang disebutkan oleh Fetrufius: utilitas (fungsi), firmitas (kekokohan), dan venustas (keindahan). Bahwa arsitektur adalah wujud karya manusia yang ditujukan untuk memenuhi suatu fungsi tertentu, yang dalam hal ini adalah mewadahi manusia dan aktifitasnya dengan segala tuntutannya, memiliki kekokohan yang memberikan rasa aman, nyaman dan memberikan bentukan tegar dan menaungi, serta memiliki keindahan atau estetika yang menjadi tuntutan manusia untuk menunjukkan kelebihannya. Kita juga dapat menyebut arsitektur adalah bangunan yang mempunyai nilai lebih. Nilai lebih ini adalah jiwa, keindahan atau seni, dan mempunyai kreatifitas serta keaslian sehingga arsitektur dapat diapresiasikan. Dalam arsitektur, yang juga sering disebut lingkungan binaan, ternyata tidak hanya menyangkut masalah bangunan, namun juga termasuk apa yang ada dalam bangunan itu (interior) dan yang berada diluar atau di sekeliling bangunan itu (eksterior). Hal inilah yang membuat ilmu arsitektur lebih luas dari pada ilmu bangunan, karena ternyata selain adanya seni didalamnya, juga menyangkut segala bentuk pemenuhan wadah aktifitas atau kegiatan manusia dalam hidupnya di muka bumi ini. Jadi arsitektur dapat berskala ruang dalam bangunan dan segala perabotnya, bangunan itu sendiri dengan estetikanya, juga sekitar bangunan, dan sekeliling bangunan itu, lingkungan bangunan itu berada, permukiman, kota, atau bahkan negara dan seluruh dunia kalau mungkin. Dan yang penting dari arsitektur adalah bahwa ia mempunyai kaidah-kaidah atau aturan-aturan sesuai dengan para ilmuwan arsitek, atau tokoh-tokoh arsitek dari pengalaman dan pengamatannya tentang arsitektur. Misalnya tentang fungsi yang dimiliki oleh arsitektur seperti yang dijelaskan Godfrey Broadbent: aesthetic form, container (wadah), environment filter (melindungi dari luar), modifier behaviaor (mengarahkan prilaku), capital investment (investasi), dan cultural symbol (simbol kultur/agama/kebudayaan). Jadi memang arsitektur harus memiliki fungsi-fungsi itu walau terkadang salah satunya lebih dominan dibandingkan dengan yang lain. Kita juga dapat mengatakan bahwa arsitektur adalah bangunan yang memakai baju. Bajunya adalah estetika. Jadi suatu bentuk dapat dikatakan arsitektur bila ia mengandung unsur kekuatan, fungsional, dan original/kreatifitas/estetika, sehingga mengandung apresiasi. Kalau dipandang dari sudut sejarah, adanya arsitektur dapat kita perkirakan sejak manusia mengenal seni dan keindahan, yaitu sejak manusia menetap dan mengenal peradaban, atau sejak adanya gedung dan bangunan. Kalau dilihat dari katanya, arsitektur, yang berasal dari bahasa Yunani, berarti arsitektur ada sejak zaman Yunani. Seperti juga bangunan, arsitektur juga terus berkembang sesuai dengan perkembangan kebudayaan manusia. Kalau kita memandang definisi yang dijelaskan Ensiklopedia Indonesia di atas bahwa arsitektur adalah seni dan ilmu, maka orang yang ahli arsitektur atau kita sebut arsitek, adalah ilmuwan dan sekaligus seniman. Sebagaimana dengan ilmu-ilmu yang lain, ilmu arsitektur juga terus berkembang sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebagaimana seni-seni yang lain, seni arsitektur juga mempunyai gaya-gaya atau langgam-langgam. Sejak dikenalnya arsitektur banyak langgam yang telah berkembang dan mewarnai perjalanan sejarah arsitektur. Langgam-langgam itu muncul dan berganti sejalan dengan pemikiran-pemikiran tokoh arsitektur di masa itu, sejalan dengan sifat manusia yang selalu menginginkan perubahan dan suasana baru. Demikian juga dengan arsitektur dipandang sebagai benda, ia mengikuti perkembangan ilmu dan seninya. Sehingga kita sering melihat adanya arsitektur yang menurut kita aneh dan tidak normal, namun bagi orang lain itu adalah arsitektur yang sangat bagus dan bermutu. Ya, inilah arsitektur, membolehkan adanya subyektifitas dan tidak ada arsitektur yang salah, melainkan arsitektur yang bagus dan kurang bagus, untuk menilai suatu arsitektur. Menilai arsitektur sangat tergantung dari siapa yang menilai, dan kemudian yang sering jadi patokan arsitek zaman sekarang adalah pemakai atau pemilik karya arsitektur itu. Apa yang dihasilkannya merupakan hasil dari ilmu dan seni yang dimilikinya dengan keinginan dan selera dari pemilik arsitektur itu. Jadi apabila di atas disebutkan ada 6 unsur yang mempengaruhi perwujudan arsitektur, yaitu geografi, geologi, iklim, sosial atau kemasyarakatan, agama dan falsafah kepercayaan, latar belakang sejarah dan ketatanegaraannya, kini ditambah lagi yakni selera atau keinginan dari pemilik arsitektur itu, karena ada kebutuhan manusia yang mungkin tidak akan pernah berakhir selama hidupnya yakni kepuasan. Seperti diterangkan oleh A. Maslow, tingkat kebutuhan manusia seperti piramida yang tidak berujung. Kebutuhan-kebutuhan itu adalah physiological needs (kebutuhan fisik), safety needs (kebutuhan keamanan), social needs (kebutuhan sosial), esteem needs (kebutuhan kepuasan), dan self actualization needs (kebutuhan untuk mengaktualisasikan dirinya). Seperti juga dalam semua bidang kehidupan manusia, arsitektur sebagai wadah aktifitas manusia juga mengikuti adanya tingkat kebutuhan itu. Semula arsitektur adalah tempat berlindung dari panas dan hujan, serta untuk menyimpan bahan makanan. Berlanjut dengan kebutuhan akan rasa aman, sehingga arsitektur dibuat untuk melindungi penghuninya dari segala gangguan baik dari alam maupun dari binatang atau orang lain. Kemudian arsitektur juga dibuat sebagai tempat untuk keluarga, sebagai tempat kerja, sebagai tempat pertemuan dan semuanya membutuhkan suatu bentukan yang lain sesuai dengan apa yang dibutuhkan dalam setiap kegiatan yang ada didalamnya, dengan demikian arsitektur juga semakin berkembang dan bentukannya pun semakin komplek misalnya bangunan tinggi, ruang dengan bentang lebar, dan bentukan-bentukan yang lain yang membutuhkan teknologi tinggi untuk membuatnya. Dan yang membuat bentukan arsitektur tidak terbatas adalah kebutuhan kepuasan, dimana kepuasan tidak terbatas, arsitektur jug tidak akan berhenti dikembangkan dan muncul bentukan-bentukan dan gaya-gaya yang baru. Pada kebutuhan manusia untuk menunjukkan esensi dirinya, dengan arsitektur ia paling tidak ingin tampil beda, ia ingin dilihat orang lain memiliki sesuatu yang lebih, maka dalam berarsitektur ia juga ingin membuat sesuatu yang lain dari pada yang lain. Dan itu semua memang yang membuat kehidupan selalu berkembang. Karena dengan adanya kebutuhan yang tak terbatas, manusia selalu berusaha memenuhi kebutuhan itu dan dengan demikian manusia akan selalu mengembangkan diri dan pengetahuannya agar dapat memenuhi kebutuhan dan keinginannya itu semaksimal mungkin.

PERSAMAAN BANGUNAN DAN ARSITEKTUR
Kalau kita melihat sekilas, hampir semua ciri yang ada dalam bangunan merupakan ciri arsitektur. Dalam hal fungsi bangunan dan arsitektur memiliki persamaan, yakni untuk mewadahi manusia dengan segala aktifitas serta peralatannya. Dalam segi bentuk dan ukuran sama-sama memiliki dimensi yang besar yang cukup untuk melingkupi kegiatan manusia dalam tiga dimensi sehingga manusia dan peralatannya dapat diwadahi oleh bangunan atau juga arsitektur. Pada bentukan dan sistem struktur yang digunakan juga merupakan hal yang sama, dan arsitektur memang bangunan yang diberi nilai dan estetika.

PERBEDAAN BANGUNAN DAN ARSITEKTUR
Perbedaan antara bangunan dan arsitektur terletak pada estetikanya, karena perbedaan estetika itu berbeda pula nilai dan tampilannya. Bila bangunan hanya dinilai dari segi fisik yaitu bahan yang digunakan (kekuatan, keawetan, ketahanan) dan fungsinya, pada arsitektur tidak hanya itu, arsitektur juga dinilai seni dan keindahannya. Jadi bila pada bangunan, dalam posisi dan fungsi yang sama, semakin besar dan semakin kokoh bangunan itu maka harganya akan semakin mahal. Namun pada arsitektur, dapat juga yang lebih kecil walau fungsinya sama mempunyai harga yang lebih mahal karena nilai seni dan keindahannya tinggi. Dengan demikian dalam berarsitektur efisiensi itu sangat diperlukan juga penggunaan teknologi yang mutakhir, untuk mendapat nilai dan seni yang lebih tinggi. Karena harga dari arsitektur tidak hanya dari kegunaan dan kapasitasnya, namun juga dari tampilan dan nilai-nilai kearsitekturalnya, yang tidak dimiliki oleh bangunan.
 
© 2011 Terus Belajar Berbagi Kebaikan | www.jayasteel.com | Suwur | Pagar Omasae | Facebook | Rumah Suwur